Selamat Datang di web Titik 7.Tandjung Pandu Wijayan.FKWA ( Forum Komunikasi Winongo Asri )

Minggu, 10 Juli 2011

REVITALISASI SUSUR SUNGAI WINONGO



Upaya masyarakat dan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam penataan hunian di kawasan bantaran sungai dari tahun ke tahun semakin meningkat. Namun mengingat keterbatasan sumber daya maka belum semua sungai tertangani secara optimal. Untuk itulah Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kota Yogyakarta sebagai elemen pemuda yang peduli terhadap kebencanaan terpanggil untuk melakukan upaya revitalisasi Sungai Winongo dalam bentuk olah data melalui penyusuran Sungai Winongo. Pelepasan tim susur sungai dilakukan oleh Wakil Walikota didampingi Ketua DPRD Kota Yogyakarta. Upacara berlangsung di Lapangan olahraga warga RW 3 RT 10 Kelurahan Bener Kecamatan Tegalrejo Yogyakarta Minggu (22/2).

Revitalisasi dalam bentuk Olah Data ini bermaksud membentuk Rencana Strategis di bantaran Sungai Winongo dalam pengembangan kawasan Winongo sebagai daerah yang aman dan sehat dihuni. Ditambahkan oleh ketua panitia kegiatan, Aryanur bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk mewujudkan partisipasi aktif segenap elemen masyarakat di bantaran Sungai Winongo dalam upaya Revitalisasi Sungai Winongo, membuat pemetaan Potensi & Permasalahan di bantaran Sungai Winongo, mendata jalur untuk evakuasi dan penyaluran bantuan, membangun kesadaran dan kesiap siagaan kepada masyarakat di bantaran sungai Winongo supaya lebih tahu akan bahaya banjir dan tanah longsor di wilayah masing masing dan merintis terbentuknya wadah yang peduli terhadap revitalisasi Sungai Winongo.

Dalam sambutannya Wakil Walikota, Haryadi Suyuti mengungkapkan pemerintah sangat beratensi dengan kegiatan ini terutama dengan mendapat banyak masukan tentang keadaan Sungai Winongo pada khususnya dan akan tanggap bencana pada umumnya. Walau tidak mengharapkan bencana tetapi masyarakat harus tetap tanggap bencana. Hal ini karena kota Yogyakarta dilewati 3 sungai maka bisa jadi berkah atau malah jadi musibah. Diharapkan nanti bukan hanya didapatkan catatan secara fisik tapi juga memberikan hasil berupa perubahan perilaku masyarakat untuk lebih tertib, tidak membuang sampah di sungai. Jika orang menaruh sampah bukannya membuang sampah, maka tidak akan terjadi bencana banjir. Masukan berupa data konkrit bagi pemerintah dapat juga berguna untuk pengawasan sungai dalam rangka menjadi potensi wisata.

Ditambahkan oleh Ketua DPRD Kota Yogyakarta, Arif Noor Hartanto, bahwa ditangan pemudalah adanya kemajuan umat. Jadi pemuda harus selau kreatif dan aktif berkarya. Setelah didapatkan data, maka kewajiban bagi pemerintah sebaga pengambil kebijakan untuk menindaklanjuti.

Kota Yogyakarta tak luput dari berbagai perubahan-perubahan yang berdampak pada munculnya bencana, seperti longsor, banjir, puting beliun dan gempa tektonik. Suka atau tidak suka Kota Yogyakarta dilewati oleh 3 sungai yaitu Winongo, Code, Gajah Wong dan 1 sungai kecil yaitu kali mambu. Perilaku masyarakat yang masih suka membuang sampah di sungai dan hidup dibantaran sungai menjadikan kawasan sungai sebagai daerah yang rawan bencana banjir dan longsor. Setelah acara pelapasan Susur Sungai diadakan juga sambung rasa dengan warga bener. Salah satu bahasan adalah tentang adanya bangunan pemantau ketinggian air yang terlihat agak memprihatinkan. Bangunan ini telah didirikan dengan dana swadaya sebanyak 750 ribu. Karena sumbang aktif warga ini maka Wakil Walikota menambahkan 1 juta rupiah untuk perbaikan bangunan tersebut. (byu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar