Selamat Datang di web Titik 7.Tandjung Pandu Wijayan.FKWA ( Forum Komunikasi Winongo Asri )

Rabu, 27 April 2011

Definisi, Permasalahan dan Karakteristik Sungai di Indonesia


Definisi, Permasalahan dan Karakteristik Sungai di Indonesia
(Tentang Sungai Part 1)

  1. Definisi Sungai
Sungai adalah sistem pengairan air dari mulai mata air sampai ke muara dengan dibatasi kanan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh sempadan sungai (Sudaryoko,1986).Sungai adalah fitur alami dan integritas ekologis, yang berguna bagi ketahanan hidup (Brierly, 2005).
Menurut Dinas PU, sungai sebagai salah satu sumber air mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat. sedangkan PP No. 35 Tahun 1991 tentang sungai, Sungai merupakan tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan.
Sungai adalah bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah disekitarnya dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa, atau ke sungai yang lain(Hamzah, 2009).
Bantaran sungai berbeda dengan sempadan sungai. Bantaran sungai adalah areal sempadan kiri-kanan sungai yang terkena/terbanjiri luapan air sungai. Fungsi bantaran sungai adalah tempat mengalirnya sebagian debit sungai pada saat banjir (high water channel(Yodi Isnaini, 2006). Menurut UU No. 35 1991 tentang sungai, menyebutkan pengertian Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai di hitung dari tepi sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam. Sehubungan dengan itu maka pada bantaran sungai di larang membuang sampah dan mendirikan bangunan untuk hunian. (Polantolo, 2008)
Sedangkan sempadan sungai, Sempadan sungai adalah wilayah yang harus diberikan kepada sungai. Sewaktu musim hujan dan debit sungai meningkat, sempadan sungai berfungsi sebagai daerah parkir air sehingga air bisa meresap ke tanah. Di samping itu, sempadan sungai merupakan daerah tata air sungai yang padanya terdapat mekanisme inflow ke sungai dan outflow ke air tanah. Proses inflow outflow tersebut merupakan proses konservasi hidrolis sungai dan air tanah pada umumnya. Secara ekologis sempadan sungai merupakan habitat di mana komponen ekologi sungai berkembang (Sobirin, 2003). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Sumber: Polantolo, 2009
  1. Permasalahan Sungai-sungai di Indonesia
  1. Sungai Besar
a. Sungai Bengawan Solo
Bengawan solo termasuk sungai besar yang idealnya memiliki lebar 300 meter, namun kondisi saat ini lebar sungai hanya 160-180 meter. Hal ini karena sungai tersebut mengalami permasalahan. Pinggiran sungai di hulu Bengawan Solo yang kemiringannya 30-40 persen kini menjadi lahan pertanian, hampir tidak ada lahan yang tersisa untuk hutan atau daerah resapan yang penting untuk kelestarian sumber mata air Bengawan Solo.
Daerah sempadan Bengawan Solo yang luasnya mencapai 1,9 juta hektare, kini hilang karena dihuni oleh 7,1 jiwa. Dari jumlah penduduk yang mendiami sempadan Bengawan Solo. Karena kurangnya pengetahuan penduduk terhadap kelestarian lingkungan Bengawan Solo, mereka tak peduli dan merusak sungai terbesar di Pulau Jawa itu. Dari 1,9 juta hektare luas sempadan sungai, 1,13 juta hektare di antaranya dipakai untuk lahan pertanian.
Bengawan Solo meluap setiap musim hujan. Penyebabnya diantaranya, aliran sungai mulai dangkal karena ada sedimentasi dari lahan pertanian dan hilangnya sempadan sungai menyebabkan air hujan yang jatuh, langsung menuju sungai. Padahal, jika sempadan itu asli (berupa hutan), jatuhan air hujan tak langsung menyentuh permukaan tanah. Hujan mengenai daun pepohonan, lalu jatuh ke tanah, dan diserap akar-akar pohon. Akar-akar pohon ini, di samping bisa menyimpan air hujan (menghambat banjir), juga dapat memasok air untuk Bengawan pada musim kemarau.
Pada sepanjang hulu dan sempadan Bengawan Solo terjadi erosi. Hal ini di sebabkan karena pada sungai bengawan solo marak berbagai penambangan pasir, terutama yang diusahakan secara besar-besaran dengan mesin penyedot. Lubang-lubang besar di dalam sungai menyebabkan ketidakstabilan tebing yang menimbulkan longsor. (Sumber: Harian Republika, Sabtu 14 Maret 2009)
b. Sungai Kapuas
Pembangunan di kabupaten/kota di Kalimantan Barat (Kalbar) dewasa ini telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan dan berdampak buruk terhadap kondisi daerah aliran sungai (DAS) Kapuas. Sungai Kapuas termasuk dalam klasifikasi sungai besar. Sungai Kapuas memiliki lebar 300 meter. Sungai Kapuas saat ini sudah tercemar dan kualitasnya menurun. Banyak masalah mengakibatkan Sungai semakin rusak. Permasalahan yang berkaitan dengan DAS Kapuas, seperti penebangan hutan, limbah domestik, dan penambangan emas ilegal. (http://www.fwi.or.id/indexasli.php?link=news&id=747)
c. Sungai Barito
Sungai Barito merupakan induk sungai yang terletak di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Sungai barito memiliki lebar 350-500 meter. Pada sungai barito terjadi pendangkalan (sedimentasi) pada bagian hilir. Wilayah yang dilewati oleh aliran Sungai Barito pada tahun – tahun terakhir ini sering terjadi banjir hampir pada semua wilayah. (http://dishutkalsel.org/index.php?option=com_content&task=view&id=113&Itemid=142)
Sungai-sungai di Banjarmasin banyak yang beralih fungsi. Sebagai contoh banyak sungai-sungai di Banjarmasin yang mulai kehilangan arealnya, akibat pembangunan ruko-ruko (rumah toko), pelebaran jalan, maupun menjadi lahan pemukiman warga. ungai-sungai sangat sempit untuk mereka renangi, dan yang lebih memprihatinkan lagi air sungai sangat kotor dan banyak sampah-sampah yang hanyut bersama aliran air. (http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0606/03/daerah/2696201.htm)
  1. Permasalahan Sungai Sedang
a. Sungai Ciliwung
Sungai Ciliwung merupakan bagian dari Satuan Wilayah Sungai (SWS) Ciliwung - Cisadane. Sebagai bagian dari SWS Ciliwung - Cisadane, Sungai Ciliwung mempunyai daerah tangkapan + 337 Km2 mengalir sepanjang 117 km bermata air di Gunung Pangrango (3.019 m) yang terletak di sebelah selatan Kota Bogor dan bermuara di Laut Jawa dan memiliki lebar sungai 30 meter. Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang mengalir melintasi batas kota/ propinsi dan memiliki fungsi penting bagi masyarakat sekitar yaitu sebagai sumber air baku, penggelontoran, jalur transportasi, dan sebagainya. Namun demikian, sejalan dengan pertumbuhan kota yang terjadi, kondisi Sungai Ciliwung dan lingkungan sekitarnya semakin hari semakin memburuk. Banyaknya penduduk yang tinggal di pinggiran sungai menjadi permasalahan sungai Ciliwung menjadi semakin kompleks. Selain menimbulkan kekumuhan, perlakuan penduduk kepada Sungai Ciliwung juga kurang bertanggung jawab, karena anggapan Sungai Ciliwung sebagai bagian belakang rumah mereka.
Kegiatan pembangunan di DAS Ciliwung, yang cenderung mengarah pada penurunan daya dukung lingkungan, berupa penurunan kemampuan lahan dalam meresapkan air dan peningkatan laju erosi. Kondisi ini menyebabkan tingginya limpasan air permukaan yang berakibat timbul- nya banjir tahunan di DKI Jakarta. Namun, upaya membebaskan bantaran sungai dari hunian liar adalah salah satu persoalan di antara berbagai masalah rumit menata Kota Jakarta. Di Jakarta Selatan, misalnya, ada 5.120 bangunan liar di bantaran sungai dengan 8.019 keluarga sebagai penghuninya. Ada lagi 5.404 bangunan dengan 7.161 keluarga di Jakarta Timur.Bahkan, di Jakarta Pusat masih ada 557 bangunan liar di bantaran sungai bersama 910 keluarga sebagai penghuni. (http://www.suarapembaruan.com/News/2007/02/22/Jabotabe/jab07.htm)
b. Sungai Brantas
Sempadan sungai Brantas juga terdapat permukiman kumuh yang berkembang di bantaran sungai. Banyak warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai dengan mendirikan fondasi rumah tepat di atas sungai. Padahal seharusnya berdasarkan penjelasan UU Penataan ruang sempadan sungai harus bersih dari permukiman atau bangunan. Pada bantaran sungai brantas, ribuan rumah penduduk umumnya dibangun berhimpitan dengan badan sungai. Tak sedikit diantaranya berdiri diatas tebing terjal yang menjadi pembatas sungai Brantas, sehingga Ribuan rumah penduduk yang rawan longsor itu umumnya dibangun berhimpitan dengan badan sungai. Tidak sedikit diantaranya berdiri diatas tebing terjal yang menjadi pembatas sungai Brantas, yang paling rawan bencana longsor. (www.metronews.com dan Malang pos, 24 Oktober 2008)
Sesuai ketentuan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63 Tahun 1993 tentang Garis Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, dan Daerah Penguasaan Sungai, jarak lebar sempadan sungai di perkotaan harus tidak kurang dari 15 meter dan di wilayah luar perkotaan bisa mencapai 100 meter. Namun, kondisi ini hampir tidak terjaga sejak dari hulu Sungai Brantas di wilayah Kota Batu menuju Kabupaten Malang. Dari Daerah hulu, pemanfaatan sempadan Sungai Brantas sudah banyak untuk kegiatan pertanian yang melanggar ketentuan. Apalagi memasuki wilayah kota, tata permukimannya sama sekali mengabaikan ketentuan pemanfaatan sempadan sungai.( Nur Rizal Kompas, 22 Oktober 2002).
  1. Sungai Kecil

A. KALI TENGGANG

KALI TENGGANG DISEMARANG TERMASUK SALURAN YANG PERMUKAANNYA RELATIF DATAR. SALURAN SEPERTI ITU MENYEBABKAN ALIRAN AIR BIASANYA LAMBAT, SEHINGGA SEBAGIAN BESAR SEDIMEN TAK BISA TERBAWA SAMPAI KE HILIR KARENA ITU, WAJAR JIKA DI BEBERAPA BAGIAN SALURAN ITU KEMUDIAN TERJADI PENDANGKALAN SERIUS. BAHKAN, ADA TEMPAT-TEMPAT YANG MENYEMPIT DAN SANGAT MENGHAMBAT ALIRAN AIR. UNTUK MEMPERBAIKI SUNGAI ITU, SEMESTINYA BAGIAN-BAGIAN SUNGAI YANG DANGKAL DIKERUK. BURUKNYA KONDISI KALI TERSEBUT MEMBUAT BERBAGAI PIHAK MERASA DIRUGIKAN. AKIBAT TERGENANG, JALAN KALIGAWE JUGA SERING MENGALAMI KERUSAKAN (SUARA MERDEKA MINGGU, 14 MARET 2004).

KONDISI ALIRAN KALI PENGGARON DAN BANJIRKANAL TIMUR SELALU DERAS SETIAP KALI HUJAN LEBAT TURUN DI BAGIAN HULU. BAHKAN, KEKUATAN AIR ITU MAMPU MENJEBOL SEBAGIAN TANGGUL DI CILOSARI PADA 2005 LALU.SEBALIKNYA, ALIRAN KALI TENGGANG JAUH LEBIH LAMBAT. HAL ITU KARENA BEDA KETINGGIAN ANTARA HULU DAN HILIR SUNGAI ITU MEMANG KECIL. HULU SUNGAI ITU ADA DI SEBELAH UTARA JALAN MAJAPAHIT DAN MEMPEROLEH ALIRAN UTAMA DARI SALURAN DI SISI SELATAN JALUR SEMARANG-PURWODADI ITU.KONDISI KALI TENGGANG YANG SEPERTI ITU MENGAKIBATKAN ALIRAN LUMPUR TAK BISA MENGALIR CEPAT DAN KEMUDIAN MENGENDAP. SELAIN ITU, PADA SAAT HUJAN LEBAT ALIRAN KALI TENGGANG SELALU KALAH DENGAN BANJIRKANAL TIMUR.BISA DIBAYANGKAN KETIKA AIR HARUS ANTRE SEMENTARA ALIRAN DARI BAGIAN HULU TERUS BERTAMBAH. ITU PULA YANG MENYEBABKAN GENANGAN DI KAMPUNG BISA BERHARI-HARI. (SUARA MERDEKA, KAMIS JANUARI 2006)

B. KALI CITANDUY

KALI CITANDUY CILACAP, SUNGAI CITANDUY TIDAK BERMUARA LANGSUNG KE SAMUDERA INDONESIA TETAPI KE SEGARA ANAKAN, SEHINGGA SETIAP TAHUN RIBUAN METER KUBIK LUMPUR YANG TERBAWA SUNGAI ITU MASUK KE LAGUNA ITU DAN TERJADILAH PROSES SEDIMENTASI YANG TINGGI. (SUARA MERDEKA, JUM’AT 3 OKTOBER 2003).



Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kondisi sungai di Indonesia mengalami berbagai permasalahan diantaranya :
· Pendangkalan sungai yang disebabkan endapan lumpur akibat erosi.
· Sempadan sungai menyempit karena tumbuh permikiman liar di sekitar bantaran sungai.
· Rusaknya fungsi sempadan karena dikonversi untuk lahan pertanian, perkebunan, dan perumahan.
· Semakin berkembangnya permukiman di sepanjang bantaran sungai, sehingga lingkungan rusak dan kotor.


C. Karakteristik Sungai di Indonesia
Sungai adalah salah satu sumber air yang esensial terhadap kehidupan. Sungai memiliki fungsi sebagai sumber air baku, irigasi, pengendali banjir dan saluran makro perkotaan. Namun yang terjadi sekarang adalah penurunan fungsi sungai karena sungai menjadi tempat sampah besar, tidak menjadi beranda depan tetapi halaman belakang. Ini yang menjadi akar permasalahan. Oleh karena itu sempadan sungai bukan hanya perlu tetapi wajib ditata dan dilindungi. (Dra. Lina Marlia, CES, Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen PU, 2009)
Menurut Robbet J. Kodoatie dan Sugianto dalam bukunya berjudul Banjir, menyebutkan bahwa sungai dapat dikelompokkan menjadi tiga daerah yang menunjukkan sifat dan karaktersitik dari sistem sungai yang berbeda, yaitu :
· Pada daerah hulu (pegunungan); di daerah pegunungan sungai-sungai memiliki kemiringan yang terjal (steep slope). Kemiringan terjal ini dan curah hujan yang tinggi akan menimbulkan stream power (kuat arus) besar sehingga debit aliran sungai sungai di daerah ini menjadi cukup besar. Periode waktu debit aliran umumnya berlangsung cepat. Pada bagian hulu ditandai dengan adanya erosi di Daerah Pengairan Sungai (DPS) maupun erosi akibat penggerusan dasar sungai dan longsoran tebing. Proses sedimentasi tebing sungai disebut degradasi. Material dasar sungai dapat berbentukboulder/batu besar, krakal, krikil dan pasir. Bentuk sungai di daerah ini adalah braider(selempit/kepang). Alur bagian atas hulu merupakan rangkaian jeram-jeram aliran yang deras. Penampang lintang sungai umumnya berbentuk V.
· Pada daerah transisi batas pegunungan bagian sampai ke daerah pantai, kemiringan dasar sungai umumnya berkurang dari 2% karena kemiringan memanjang dasar sungai berangsur-angsur menjadi landai (mild). Pada daerah ini seiring dengan berkurangnya debit aliran walaupun erosi masih terjadi namun proses sedimentasi meningkat yang menyebabkan endapan sedimen mulai timbul, akibat pengendapan ini berpengaruh terhadap mengecilnya kapasitas sungai (pengurangan tampang lintang sungai). Proses degradasi (penggerusan) dan agradasi (penumpukan sedimen) terjadi akibatnya banjir dapat terjadi dalam waktu yang relatif lama dibandingkan dengan daerah hulu. Material dasarnya relative lebih halus dibandingkan pada daerah pegunungan. Penampang melintang sungai umumnya berangsur-angsur berubah dari huruf V ke huruf U.
Pada daerah hilir; sungai mulai batas transisi, daerah pantai, dan berakhir di laut (mulut sungai/ estuary). Kemiringan di daerah hilir dari landai menjadi sangat landai bahkan ada bagian-bagian sungai, terutama yang mendekati laut kemiringan dasar sungai hampir mendekati 0 (nol). Umumnya bentuk sungai menunjukkan pola yang berbentuk meander sehingga akan menghambat aliran banjir. Proses agradasi (penumpukan sedimen) lebih dominan terjadi. Material dasar sungai lebih halus dibandingkan di daerah transisi atau daerah hulu. Apabila terjadi banjir, periodenya lebih lama dibandingkan daerah transisi maupun daerah hulu.
Sungai Berbentuk V

Sungai Bentuk U
Karateristik dan Jenis Sungai di Indonesia berdasarkan sumber air sungai, dibedakan menjadi tiga macam : (http://airbengkulu.blogspot.com/2009/04/sungai-dan-definisinya.html)
  • Sungai Hujan, adalah sungai yang airnya berasal dari air hujan atau sumber mata air. Contohnya adalah sungai-sungai yang ada di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.
  • Sungai Campuran, adalah sungai yang airnya berasal dari pencarian es (gletser) dari hujan, dan sumber mata air. Contoh sungai jenis ini adalah Sungai Digul dan Sungai Mamberano di Pulau Papua (Irian Jaya).
Karateristik dan Jenis Sungai di Indonesia, berdasarkan debit airnya (volume airnya), sungai dibedakan menjadi : (http://airbengkulu.blogspot.com/2009/04/sungai-dan-definisinya.html)
  • Sungai Permanen, adalah sungai yang debit airnya sepanjang tahun relative tetap. Contoh Sungai Kapuas, Kahayan, Barito dan Mahakam Di Kalimantan. Sungai Musi, Batanghari dan Indragiri di Sumatera
  • Sungai Periodik, adalah sungai yang pada musin hujan airnya banyak sedangkan pada musim kemarau airnya kecil. Contoh sungai ini banyak dipulau Jawa seperti Bengawan Solo, sungai Opak, Sungai Progo, Sungai Code, dan Sungai Brantas.
  • Sungai Episodik, adalah Sungai yang pada musim kemarau airnya kering dan pada musim hujan airnya banyak. Contoh : Sungai kalada dipulau Sumba.
  • Sungai Ephemeral, adalah sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan, pada musim hujan airnya belum tentu banyak.
Indonesia memiliki banyak pulau, maka secara umum sungai di Indonesia masih alami serta cenderung panjang akibat dari berbelok-beloknya aliran sungai tersebut akibat beda ketinggian, topografi ataupun hal lainnya dan banyak yang bermuara langsung ke lautan. Pola aliran sungai di Indonesia terdapat bermacam-macam misalnya pola aliran granular, dentritik, trelis, merder dan lainnya. Granular misalnya ini merupakan pola-pola aliran di daerah perbukitan, pararel merupakan pola aliran pada bukit yang mempunyai sistem Kars (batu kapur). Untuk merder merupakan pola alirannya yang biasanya banyak terdapat pada sistem dataran aluvial (endapan). Aliran merder banyak ditemui di Indonesia, yaitu aliran yang mengalir sepanjang tahun dan dapat ditemui di sungai-sungai yang lebar seperti Batanghari di ambi, Kapuas, Sungai Kampar dan lain-lain. (Kompas, Minggu, 06 Juli 2003)
Pengembangan sungai di Indonesia masih minimal untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Apabila dibandingkan dengan pengembangan irigasi, lingkup pengembangan sungai masih tertinggal jauh. Pekerjaan yang dilakukan hanyalah terbatas pada sungai-sungai prioritas. Hal itu dapat dilihat bahwa dari 6.000 lebih sungai dengan panjang lebih dari 40 kilometer, hanya 39 sungai saja yang masuk kategori prioritas dan ditangani sebagian-sebagian di hulu, tengah, dan hilir. Masih banyak sungai yang bersifat natural, sehingga dalam hal kenaturalan sungai Indonesia lebih banyak mempunyai khazanah dibandingkan dengan negara manapun. (Kompas, Minggu, 06 Juli 2003).

Download Buku Geomorphology and River Management
http://www.mediafire.com/?ertxw280051wm7d#1 (Copas Link)
pas: ebooksclub.org


Sumber Lainnya:
Rahman boby dan Dita Rr KP, Pola Ruang Terbuka Hijau di Bantaran Sungai (produk: Seminar Produk Akhir), Semarang, Tahun 2009 

Fungsi-fungsi Sungai



Fungsi-fungsi Sungai
(Tentang Sungai Part2)
Posting ini merupakan lanjutan dari Tentang Sungai Part 1 yang membahas "definisi-permasalahan-dan-karakteristik Sungai di Indonesia"
- Sungai Sebagai Ekologi
Menurut kitab suci Al-Qur’an pada surah Al Naml : 61, sungai difungsikan sebagai kelengkapan sempurnanya lingkungan hidup sungai berfungsi sebagai ekosistem yang dapat menjadikan kehidupan terus berjalan secara baik.
Sungai mempunyai fungsi vital kaitannya dengan ekologi, sungai dan bantarannya biasanya merupakan habitat yang sangat kaya akan flora dan fauna sekaligus sebagai barometer kondisi ekologi daerah tersebut. Sungai yang masih alamiah dapat berfungsi sebagai aerasi alamiah yang akan meningkatkan atau menjaga kandungan oksigen air di sungai.
Komponen ekologi sungai adalah vegetasi daerah badan, tebing dan bantaran sungai. Pada sungai sering juga ditemui sisa vegetasi misalnya kayu mati yang posisinya melintang atau miring sungai. Kayu mati pada sungai kecil dan menengah menunjukkan fungsi hidrolik yang berarti Fungsi hidrauliknya adalah bahwa kayu mati akan menghambat aliran air ke hilir, aliran air tebendung sehingga air tertahan di daerah hulu (Agus Maryono, 2005).

- Sungai sebagai Sumber Kehidupan
Pada surah Al Baqarah : 249 fungsi sungai untuk menampung air minum.
PP 35 tahun 1991 menyebutkan fungsi Sungai sebagai sumber air merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai fungsi serbaguna bagi kehidupan dan penghidupan manusia.
Ruang Produksi, peranan sebagai ruang produksi disini adalah sumberdaya perikanan yang bertahan jika semua kegiatan yang menganggu kehidupan (Pencemaran) perikanan sampai pada tahap yang dapat memusnahkan. ( Djanen Bale, Dkk 1996)
- Transportasi
Menurut Al-qur’an pada surah Ibrahim ayat 32, dijelaskan bahwa sungai difungsikan sebagai alat transportasi, karena sungai menjadi sarana kapal-kapal berlayar yang dapat menghubungkan orang bepergian ke tempat yang dituju.
Menurut Agus Maryono 2005, Sebagai fungsi transportasi, sungai bisa dilihat dari dari berbagai kelayakan, yaitu
a. Kelayakan ekonomi ; Transportasi sungai (kapal) memiliki keefektifan yang sangat tinggi, karena kapal memiliki kapasitas angkut barang paling efektif. Sebuah kapal barang dengan panjang 110 m dan lebar 10 m dapat menggantikan 87 buah truk atau sebanyak 50 gerbong kereta api. Ini berarti satu kapal dapat menghemat pemalain bensin dan tenaga kerja.
b. Kelayakan lingkungan ; salah satu sebab hancurnya kualitas sungai dan menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah karena sungai tidak dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana yang murah untuk transportasi atau rekreasi sejarah dan kondisi di Indonesia. Jika di lihat dari sejarah maka akan ditemukan bahwa transportasi sungai di Indonesia sampai tahun 1920 masih dominan, sebagai contoh : kota Majapahit di Jawa Timur, di Semarang yang pada tahun 1950an kapal dagang kecil masi bisa masuk sampai di tengah kota. Sedangkan di luar jawa seperti Sumatera dan Kalimantan, sungai sudah secara tradisional digunakan sebagai sarana transportasi.
Robert Kodoatie juga menyatakan bahwa sungai merupakan lintas sektoral yang mempunyai fungsi ganda yaitu fungsi ekonomi, ekologis dan Sosial; Mempunyai fungsi Sosial, dapat menjadi penghubung antara masyarakat (sebagai transportasi), kegiatan dan interaksi.
Menurut Bale Djanen dkk 1996, Prasarana penghubung, masyarakat yang bermukim dilingkungan perairan sungai menggunakan perairan sebagai penghubung sepanjang memiliki ciri-ciri yang sejalan dengan pengguna tersebut. Ciri-ciri tersebut berkaitan dengan volume air dan kecepatan arus.
- Sungai sebagai Sumber Ekonomi
Mempunyai fungsi ekonomi, sebagai konsumsi dan kebutuhan berbagai aktivitas seperti industri, perdagangan dan jasa,pertanian dan wisata yang dapat menghasilkan nilai ekonomi
Mempunyai fungsi ekonomi, karena dapat menghasilkan nilai ekonomi seperti ruang produksi, wisata dan raw material (Robert Kodoatie, 2002)
Budidaya ikan disungai menjadikan sungai memiliki fungsi ekonomi
Sumber:

Al-Qur'an
Bale Djanen, 1996, Analisis Pola Permukiman Perairan di Indonesia, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta
Maryono Agus, 2005, Eko-Hidraulik Pembangunan Sungai. UGM Yogyakarta
Kodoatie J Robert, 2002, Banjir. Pustaka pelajar Yogyakarta

1 komentar: